Wisata Kebudayaan Sejarah yang Masih Berdiri Tegak di Kalimantan Barat - Wisata Khatulistiwa
Banner Disewakan

Trending

Home Top Ad

Post Top Ad

Banner Disewakan

Wisata Kebudayaan Sejarah yang Masih Berdiri Tegak di Kalimantan Barat

Indonesia merupakan salah satu negara dengan berbagai destinasi wisata terbaik di dunia. Negeri kita ini memiliki banyak budaya serta menyimpan beragam kekayaan alam. 

Dengan memiliki banyak budaya, tentunya Indonesia tak hanya populer menjadi destinasi wisata kekayaan alamnya saja, tetapi juga destinasi wisata sejarah mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masa lampau.

Kalimantan Barat juga memiliki beberapa tempat wisata sejarah yang masih berdiri tegak, dimana tempatnya tersebar di setiap kabupaten

1. Keraton Alwatzikhoebillah - Sambas


Begitu melangkahkan kaki menuju ke dalam istana, maka kita akan disambut dengan bangunan yang semuanya berlapiskan kayu, bangunan ini disebut dengan gerbang segi delapan yang menjadi gerbang pintu masuk halaman Istana Alwatzikhoebillah dan memiliki nilai filosofi serta kegunaan tersendiri pada zaman dahulu. Gerbang masuk ini dibuat bertingkat dua dengan bentuk segi delapan dan memiliki luas 76 meter persegi.

Ruang pada gerbang di bagian bawah difungsikan sebagai tempat penjaga dan tempat beristirahat rakyat yang berkunjung ke istana sebelum memasuki halaman utama dan bertemu sultan. Sedangkan ruang bagian atas berfungsi untuk tempat mengatur penjagaan dan pada saat-saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan dan alat-alat kesenian lainnya


2. Keraton Amantubillah - Mempawah


Istana Amantubillah memiliki warna dominan hijau muda, begitu menginjakan kaki di area istana ini, pengunjung akan disambut pintu gerbang istana yang bertuliskan 'Mempawah Harus Maju, Malu Dengan Adat'.

Begitu melewati gerbang kita akan melihat halaman dengan rerumputan hijau dengan beberapa meriam yang diletakan diatas rumput.

Kompleks Istana Amantubillah dibagi menjadi tiga bagian utama yakni bangunan utama, sayap kanan dan sayap kiri. Dahulu bangunan utama di istana ini merupakan singgasana raja beserta permaisuri hingga para keluarga raja.

3. Keraton Kadriah - Pontianak


Kraton Kadriah yang sudah berusia lebih dari 300-an tahun ini memiliki kompleks bangunan yang megah yang berdiri di tepi sungai. Memiliki ukuran sekitar 30 x 50 meter, bangunan istana terdiri atas 3 tingkat dan hal inilah yang menjadikannya sebagai istana terbesar yang dimiliki Kalimantan Barat.

Sejarah singkat mengungkapkan bahwa Sultan Abdurrhaman bertahta hingga tahun 1808, kemudian selanjutnya digantikan oleh Sultan Kasim Alkadrie hingga tahun 1819, karena ditawan Jepang pada tahun 1944 Sultan Muhammada Alkadri yang sempat menjabat tahta akhirnya digantikan oleh Sultan Thah Alkadri pada tahun 1945.

Ditandai dengan masuknya tentara sekutu setelah mengalahkan Jepang, kemudian Sultan Hamid II Alkadrie (sang pencipta lambang Garuda/ lambang Negara Indonesia) dinobatkan sebagai Sultan Pontianak tahun 1950 menjadi saksi kerajaan Pontianak telah dilebur namanya menjadi Provinsi Kalimantan Barat.

4. Keraton Ismahayana - Landak


Komplek Keraton Landak terdiri dari beberapa bangunan, yaitu Istana Landak (Istana Ilir), Kediaman Permaisuri (Istana Ulu), serta Kediaman Neang Raja (Rumah Sultan).

Keraton Landak dibangun menghadap ke arah Sungai Pinyuh, arsitekturnya merupakan rumah panggung dengan warna kuning keemasan dan hijau yang merupakan ciri dari nuansa Melayu.

Bangunan keraton memanjang ke belakang, masing-masing bagian dari bagunan keraton yang terdiri dari pondasi, lantai, dinding, hingga atap sirap berbahan dasar kayu belian.


5. Keraton Pakunegara - Tayan



Keraton Panakunegara Tayan awalnya merupakan rumah tinggal bagi keluarga kerajaan Tayan setelah keraton ke 2 (dua) di kawasan Teluk Kemilun yang letaknya tidak jauh dari pusat Kota Tayan.

Bangunan berlantai 2 (dua) dengan arsitektur rumah panggung melayu pada umumnya dengan berbahan utama kayu belain (ulin) atau lebih dikenal dengan nama kayu besi yang diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Gusti Lekar bin Gusti Dikibiri Kusuma, Raja Tayan pertama yang memerintah dari tahun 1683 – 1718.

Keraton yang terletak di tepi Sungai Kapuas ini merupakan keraton ke 3 (tiga) setelah Keraton I Rayang dan Keraton II di kawasan Teluk Kemilun. Umumnya keraton-keraton di Kalimantan yang berorientasi ke sungai, begitu pula halnya dengan keraton pakunegara tayan yang menghadap kearah selatan ke sungai kapuas.

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad